note : BUNGLON_08: metode pembelajaran

metode pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah

Dari dulu hingga sekarang para ahli pendidikan tidak bosan-bosannya membicarakan masalah belajar. Penelitian demi penelitian sudah pula dilakukan. Berbagai teori belajartelah tercipta sebagai hasil dari kerja keras penelitian. Kritik-kritik terhadap teori belajar yang sudah ada dan dirasakan mempuynyai kelemahan selalu dilakukan para ahli. Teori-teori belajar yang terbaru pun hadir di belantika kehidupan, mengisi lembaran sejara dalam dunia pendidikan.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Teori-teori pembelajaran ?
2. Bagaimana cara menganalisa berbagai teori pembelajaran?
3. Bagaimana hubungan antara beberapa teori model strategi pembelajaran?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui arti atau makna teori-teori pembelajran
2. Untuk dapat menganalisa dan mengetahui perbedaan antara teori-teori pembelajaran
3. Untuk dapat menghubungkan antara beberapa teori pembelajaran.












BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Pengajaran
Metode pengajaran adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Metode tersebut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistim pengajaran. Dalam memakai metode mengajar, seorang pendidik harus menyesuaikan karakteristik siswa, materi, kondisi, lingkungan (setting) dimana pengajaran berlangsung. Bila ditinjau secara lebih teliti sebenarnya keunggulan suatu metode terletak pada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain: tujuan, karakteristik sisiwa, situasi dan kondisi, kemampuan dan pribadi guru, serta sarana dan prasarana yang digunakan.
Secara garis besar, metode mengajar dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian:
1. Metode mengajar konvensional (klasik)
2. Metode mengajar inkonvensional (modern)
Untuk mengukur sejauh mana keefektifan suatu metode yang digunakan dalam pencapaian tujuan pengajaran, harus dilihat nilai dan kriteria metode yang digunakan yang menyangkut:
a. Bagaimana sifat dan ciri-ciri metode tersebut
b. Kapan metode tersebut tepat digunakan
c. Apa saja kekurangan dna kelebihannya
d. Bagaimana cara penggunaannya

B. Teori Klasik
Adalah metode mengajar konvensional adalah metode lazim yang dipakai oleh guru atau sering disebut metode tradisional. Berikut metode-metode mengajar konvensional:
1. Metode Ceramah : adalah teknik penyampaian bahan pengajaran secara lisan oleh guru di muka kelas. Meski metode ini menuntut keaktifan guru daripada anak didik, metode ini tidak bisa ditinggaklan begitu saja dalam kegiatan pengajaran. Apalagi dalam pendidikan dan pengajaran tradisional, seperti di pedesaan, yang kekurangan fasilitas.
Metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
a. Kelebihan
1) Guru mudah mengusai kelas
2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas
3) Dapat diikuti oleh jumlah sisiwa yang besar
4) Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
5) Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
b. Kekurangan
1) Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata)
2) Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar menerimanya.
3) Bisa selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.
4) Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik ceramahnya, ini sukar sekali.
5) Menyebabkan siswa menjadi pasif.
Dalam pemggunaan metode ceramah perlu diperhatikan hal-hal berikut:
 Dalam menerangkan pelajaran hendaknya digunakan kata-kata yang sesderhana, jelas, dan mudah dipahami oleh para siswa.
 Gunakan alat visualisasi, seperti papan tulis/ media lainnya yang tersedia untuk menjelaskan pokok bahasan yang disampaikan.
 Mengulang kata atau istilah-istilah yang digunakan secara jelas, dapat membantu siswa yang kurang atau lambat kemampuan dan daya tangkapnya.
 Perinci bahan yang disampaikan, dengan memberikan ilustrasi, menghubungkan materi dengan contoh-contoh yang kongkrit.
 Carilah umpan balik sebanyak mungkin sewaktu ceramah berlangsung.
2. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan mengadu argumentasi secara rasional dan objektif. Cara ini menimbulkan perhatian dan perubahan tingkah laku anak dalam belajar. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang siswa dalam belajar dan berfikir secara rasional dan objektif dalam permecahan suatu masalah. Prinsip-prinsip yang perlu dipegang dalam diskusi:
a) Melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi
b) Diperlukan ketertiban dan keteraturan dalam mengemukakn pendapat yang dipimpin oleh moderator
c) Masalah yang didiskusikan disesuaikan dengan perkembangan dan kemempuan anak.
d) Guru berusaha mendorong siswa yang kurang aktif untuk mengeluarkan pendapatnya
e) Siswa dibiasakan menghargai pendapat orang lain dalam menyetujui atau menentang pendapat
f) Aturan dan jalannya diskusi dijelaskan kepada siswa yang masih belum mengenal tatacara berdiskusi.
Metode diskusi digunakan bilamana:
 Materi yang disajikan bersifat low concensus problem, artinya bahan yang akan disajikan banyak mengendung permasalahan yang tingkat kesepakatannya rendah.
 Untuk pengembangan sikap atau tujuan-tujuan pengajaran yang bersifat afektif.
 Untuk tujuan-tujuan yang bersifat analisis sintesis dan tingkat pemahaman yang tinggi.
Keunggulan metode diskusi:
1) Merangsang kreativitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan-prakarsa, dan terobosan baru dalam permecahan suatu masalah.
2) Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
3) Memperluas wawasan
4) Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
Kekurangan metode diskusi:
1) Pembicaraan terkadang menyimpang sehingga memerlukan banyak waktu panjang.
2) Tidak dapat dipakai pada kelompok besar
3) Peserta mendapat informasi yang terbatas
4) Mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.
Dalam metode diskusi, guru harus memberikan bantuan berupa penyajian masalah yang akan didiskusikan, memberi bimbingan dan pengarahan sebelum/ selama diskusi. Yang perlu diperhatikan adalah:
a) Topik yang dibahas merupakan permasalahan yang mengandung beberapa alternatif permecahan
b) Topik yang dibahas dapat merangsang siswa mengeluarkan pendapat yang berbeda.
c) Situasi dan kondisi memungkinkan untuk melaksanakan diskusi
d) Tingkat kemampuan dan daya pikir siswa yang memungkinkan untuk melakukan diskusi, dan materi yang didiskusikan sesuai dengan tingkat kemampuan mereka
Tugas-tugas guru dalam diskusi:
a) Dapat bertindak sebagai pimpinan dalam diskusi
b) Sebagai moderator yang dapat mengamankan, menolak atau menyampaikan pendapat dan usul-usul kepada peserta diskusi.
Langkah-langkah yang perlu diambil dalam pelaksanaan diskusi:
1) Pemilihan topik yang akan didiskusikan
2) Bentuk kelompok diskusi
3) Dalam pelaksanaan diskusi, siswa berdiskusi dengan kelompok masing-masing dan guru memperhatikan dan memberi petunjuk bila diperlukan
4) Hasil diskusi dilaporkan secara tertulis dan diadakan forum panel diskusi untuk menanggapi setiap laporan kelompok tersebut.
Ada beberapa jenis diskusi yang bisa dilakukan oleh guru:
 Whole Group : bentuk diskusi kelas dimana peserta duduk setengah lingkaran
 Diskusi Kelompok: bisa berupa diskusi kelompok kecil yang terdiir dari 4-6 orang dan juga diskusi kelompok besar yang terdiri 7-15 orang.
 Buzz Group : bentuk diskusi ini terdiri dari kelas yang dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri 3-4 orang peserta. Tempat duduk diatur sedemikian rupa agar siswa dapat bertukar pikiran dan bertatap muka dengan mudah.
 Panel : bentuk diskusi yang terdiri dari 3-6 orang peserta untuk mendiskusikan topik tertentu dan duduk dalam bentuk semi melingkar yang dipimpin oleh moderator. Secara fisik, panel dapat dilakukan berhadapan langsung dengan audien atau dapat juga secara tidak langsung.
 Syndicate Group : bentuk diskusi ini kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil terdiri dari 3-6 peserta, yang masing-masing mendapat tugas yang bersifat komplementer (lengkap). Guru menjelaskan permasalahan secara umum, dan siswa mempelajari aspek-aspek yang telah digambarkan. Guru diharapkan menyediakan sumber-sumber informasi/ referensi yang dijadikan rujukan.
 Symposium : biasanya terdiri dari pembawa makalah, penyanggah, moderator, notulis, dan beberapa peserta simposium. Pembawa makalah diberi kesempatan untuk menyampaikan makalahnya di muka secara singkat ( antara 10-15 menit). Selanjutnya diikuti penyanggah dan tanggapan audien.
 Informal Debate : biasanya bentuk diskusi ini kelas dibagi menjadi dua tim yang agak seimbang besarnya dan mendiskusikansubjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan perdebatan formsl.
 Fish Bowl : bentuk diskusi ini terdiri dari beberapa orang peserta dan dipimpin oleh seorang ketua untuk mencari keputusan. Tempat duduk diatur setengah melingkar dengan dua atau tiga kursi kosong menghadap peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi seolah-olah melihat ikan yang ada di sebuah mangkok. Selama diskusi kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pendapatnya dapat duduk dikursi yang kosong yang telah disediakan. Bila ketua diskusi mempersilahkan bicara, ia boleh bicara dan kembali ke tempat setelah selesai berbicara.
 The Open Discussion Group: bentuk ini jumlah anggota kelompok yang baik antara 3-9 orang. Diskusi ini dapat membantu siswa belajar mengemukakan pendapat secara jelas, memecahkan masalah, memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain, dan dapat menilai kembali pendapatnya.
 Braindstoarming : bentuk ini menjadi baik bila terdiri dari 8-12 orang. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat menymbangkan ide dalam pemecahan masalah. Hasil belajar yang dinginkan adalah menghargai pendapat orang lain dan menumbuhkan rasa percaya diri.
3. Metode Tanya Jawab
Adalah penyampaian pesan pengajaran dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan. Bila metode ini dilakukan secara tepat akan dapat meningkatkan perhatian siswa untuk belajar secara aktif.
Metode tanya jawab dipakai bila dilakukan:
a) Sebagai ulangan pelajaran yang telah lalu
b) Sebagai selingan dalam menjelaskan pelajaran
c) Untuk merangsang siswa agar perhatian mereka lebih terpusat pada masalah yang dibicarakan
d) Untuk mengarahkan proses berpikir siswa
e) Metode ini dapat memberikan kelas menjadi hidup, melatih siswa mengemukakan pertanyaan atau jawaban, dan mengaktifkan siswa terhadap pelajaran lalu.
Sedangkan kelemahan metode tanya jawab:
a) Banyak waktu tersita dan kurang dapat dikontrol secara baik oleh guru karena banyaknya pertanyaan yang timbul
b) Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian siswa bila terdapat pertanyaan atau jawaban yang tidak berkenaan dengan sasaran yang dibicarakan
c) Jalannya pengajaran kurang dapat terkoordinir secara baik karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang mungkin tidak dapat dijawab secara tepat, baik guru maupun siswa.
Jenis variasi dalam tanya jawab yang bisa dilakukan guru:
1) The mixed strategy : mengkombinasi berbagai tipe dan jenis pertanyaan
2) The speaks strategy : mengajukan pertanyaan yang saling bertalian satu sama lainnya
3) The plateaus strategy : mengajukan pertanyaan yang sama jenisnya terhadap sejumlah siswa sebelum beralih kepada jenis pertanyaan yang lain
4) The inductive strategy : dengan berbagai pertanyaan siswa didorong untuk menarik generalisasi dari hal-hal khusus kepada uang umum, atau dari berbagai fakta menuju hukum-hukum
5) The deductive strategy : suatu generalisasi yang dijadikan sebagai titik tolak, sisea diharapkan dapat menyatakan pendapatnya tentang berbagai kasus atau data yang ditanyakan (Hyman, Moedjiono, 1985: 36)
Dari berbagai variasi dan jenis terknik pertanyaan tersebut diharapkan proses belajar mengajar menjadi hidup dan menarik bagi anak.
4. Metode Demonstrasi dan eksperimen
Demonstrasi adalah salah satu tehnik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu. Misalnya demonstrasi tentang cara menyembelih hewan qurban untuk Idhul Adha.
Metode eksperimen adalah cara dimana guru dan murid sama-sama melakukan suatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari sutau aksi. Sebagai contoh adalah mencangkok pohon mangga.
Metode demonstrasi dan eskperimen ini cocok untuk digunakan bilamana:
1. Untuk memberikan latihan ketrampilan tertentu.
2. Untuk memudahkan penjelasan yang diberikan agar siswa lansung mengetahui dan dapat terampil mempraktikannya
3. Untuk membantu siswa dalam memahami suatu proses.
4. Memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan keterampilan dalam berbuat
5. Menghindarkan kesalahan siswa dalam mengambil suatu kesimpulan.
Kelemahan kedua metode tersebut adalah:
1. Persiapan dan pelaksanaanya memakan waktu yang lama.
2. Metode ini tidak akan efektif bilamana tidak ditunjang dengan sarana yang memadai
3. Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaa metode demonstrasi adalah:
1. Rumuskan secara spesifik yang dapat dicapai oleh siswa.
2. Susun langkah-langkah yang akan dilakuka dengan demonstrasi secara teratur sesuai dengan skenario yang dilaksanakan.
3. Persiapan peralatan sebelum demonstrasi dimulai.
4. Usahakan dalam melakukan demonstrasi sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Sedangkan dalam melaklukan eksperimen, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a) Persiapan terlebih dahulu alat-alat yang dibutuhkan.
b) Usahakan siswa terlibat langsung sewaktu mengadakan eksperimen.
c) Sebelum diberikan eksperimen siswa terlebih dahulu diberikan penjelasan dan petunjuk seperlunya.
d) Lakukan pengelompokan atau individu untuk mengerjakan percobaan-percobaan yang direncanakan.
e) Setiap kelompok atau individu dapat melaporkan hasil eksperimen secara tertulis.
5. Metode Resitasi
Metode resitasi biasa disebut metode pekerjaan rumah tugas rumah, karena siswa diberi tugas-tugas khusus diluar jam pelajaran. Metode ini dilakukan apabila guru mengharapkan pengetahuan yang diterima siswa lebih mantap, dan mengaktifkan mereka dalam mencari atau mempelajari sesuatu masalah dengan lebih banyak membaca. Metode ini biasa disebut dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang saat ini sedang dikembangkan oleh sekolah-sekolah.
Metode resitasi ini cocok digunakan bilamana:
1. Bertujuan untuk mendapat keterampilan khusus dalam mengerjakan sesuatu. Contoh keterampilan menganya dan sebagainya.
2. Untuk memantapkan pengetauhan yang diperoleh oleh siswa.
Keunggulan metode ini adalah:
1. Siswa lebih banyak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
2. Siswa menjadi aktif dan memiliki rasa tanggungjawab.
3. Sangat berguna untuk mengisi kekosongan waktu, agar siswa dapat melakukan hal-hal yang bersifat konstruktif.
Kelemahan metode resitasi ini adalah:
1. Dapat menimbulkan keraguan. Karena bisa jadi tugas yang diberikan kepada siswa dikerjakan oleh orang lain.
2. Guru sering mengalami kesukaran dalam memberi tugas yang sesuai dengan kemampuan yang dimilki siswa.
3. Bila tugas terlalu dipaksakan dapat mengagnggu kestabilan mental pikiran siswa.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan daslam penggunaan metode ini:
Fase pertama tahap pemberian tugas yang menyangkut:
1. Tujuan harus dirumuskan secara spesifik
2. Tugas yang diberikan harus jelas arahnya.
3. Para siswa harus diberikan petunjuk yang jelas, agar tidak bingung dalam pengerjaannya.
4. Pemusatan perhatian siswa adalah pada hal-hal yang pokok tanpa menghilangkan hal-hal lain yang berkaitan.
Fase kedua; tahap belajar, yakni sisiwa melaksnakan tugas sesuai dengan tujuna dan petunjuk yang diberikan guru.
Fase ketiga; yaitu tahap resitasi dimana siswa bertanggungjawab atas hasil yang dikerjakannya.
6. Metode Kerja Kelompok
Metode belajar kelompok dilakukan atas dasar pandangan bahwa peserta didik merupakan suatu kesatuan yang dapat dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dan minatnya untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu dengan sistem gotong royong.
Dalam prakteknya ada beberapa jenis kerja kelompok yang kesemuanya dapat dikerjakan tergangtung pada tujuan khusus yang dicapai.
Metode ini cocok bilamana:
1. Adanya kekurangan alat atau fasilitas di dalam kelas. Misalnya hanya terdapat beberapa buku saja, sedangkan jumlah siswanya cukup banyak. Untuk mencapai tujuan pengajaran siswa diharuskan membaca buku tersebut. maka kelas dapat bekerja sama dengan siswa yang lebih pandai.
2. Terdapat beberapa unit pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam waktu yang sama. Maka kelas dibagi menjadi beberapa kelompok menurut jenis kebutuhan.
Keunggulan metode ini adalah:
a. Ditinjau dari segi paedagoies, kegiatan kelompok akan dapat meningkatkan kualitas kepribadian siswa. Seperti adanya kerjasama, toleransi, berpikir kritis dan lain sebagianya.
b. Dari segi psikologi, timbul persaingan yang positif antar kelompok.
c. Dari segi sosial, anak yang pandai dapat membantu anak yang kurang pandai dalam kelompok tersebut.
Adapun kelemahan metode ini adalah:
a. Terlalu banyak persiapan dan pengaturan yang kompleks daripada metode yang lainnya.
b. Bila guru kurang kontrol maka akan terjadi persaingan yang negatif antar kelompok.
c. Tugas yang diberikan terkadang akan hanya dikerjakan oleh beberapa siswa yang cakap dan rajin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah:
1. Tentukan tujan kelas dan spesifik yang harus dicapai siswa.
2. Persiapkan materi yang harus dikerjakan siswa dalam kelompok.
3. Jelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa dalam kelompok masing-masing.
4. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan minat, dan kemampuan siswa.
5. Agar siswa aktif dalam masing-masing keolompok guru harus aktif mengontrol dan bimbinga terhadap tugas yang mereka kerjakan.
7. Metode Sosio-drama dan Bermain Peranan
Menurut engkoswara: metode sosi-drama adalah suatu drama tanpa naskah yang diceritakan dengan singkat dalam tempo 4 atau 5 menit, kemudia anak didik menerangkannya Kadang kala suatu sosi-drama dimulai dengan cerita yang tidak selesai, kemudian diselenggarakan oleh siswa-siswa itu sendiri daya cipta mereka masing-masing.
Metode ini cocok digunakan apabila:
1. Pelajaran dimaksudkan untuk menerangkan peristiwa yang dialami dan menyankut orang banyak berdasarkan pertimbangan didaktis.
2. Pelajaran tersebut dimaksudkan untuk melatih siswa menyelesaikan masalah-masalah psikologis.
3. Untuk melatih siswa agar dapat bergaul dan kemungkinan memberi pemahaman bagi orang lain.
Keunggulan metode ini adalah:
1. Siswa dapat terlatih untuk dapat mendramatisasikan sesuatu dan juga melatih keberanian mereka.
2. Kelas akan menjadi hidup karena menarik perhatian siswa.
3. Siswa dapat menghayati suatu peristiwa sehingga lebih mudah untuk mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatannya sendiri.
4. Siswa dilatih menyusun buah oikiran secara teratur.
Adapun kelemahan metode ini adalah:
1. Banyak menyita waktu jam pelajaran
2. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang.
3. Kadang-kadang siswa keberatan melakukan peranan karena alasan psikologis.
4. Bila damatisasi gagal, maka siswa tidak akan mengambil kesimpulan.
Beberapa hal yang perlu ditempuh dalam penggunaan metode ini:
Pertama, persiapan; dalam tahap ini perlunya menentukan pokok masalah yag akan didramatisasikan, menentukan para pemain, dan mempersiapkan para siswa sebagai pendengar yang baik.
Kedua, pelaksanaan; setelah masalah dan pemainnya disiapkan, dipersilahkan kepada para siswa untuk mendramatisasikan masalah yang diminta selama 4 atau 5 menit menurut pendapat dan inisiasi mereka sendiri. Bila terjadi kemacetan, sebaiknya guru cepat bertindak dengan menunjuk siswa lain untuk menggantikannya. Atau siswa tersebut diberi isyarat atau aba-aba untuk memperbaiki agar mereka dapat membetulkan permainannya.
Ketiga, tindak lanjut; sebagai metode pengajaran sosio-drama tidak hanyas berahkir pada pelaksaan dramatisasi, melainkan dapat dilanjutkan dengan tanya jawab, diskusi, kritik, atau analisis persoalan.(engkoswara, 1984; 60).
8. Metode Karya Wisata
Metode ini adalah metode pangajaran yang dilakukan dengan mengajak para siswa untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya dengan pokok bahasan. Sebelum keluar kelas guru terlebih dahulu membicarakan kepada para siswa tentang hal yang akan diselidiki, agar permaslahan yangakan diselidiki dapat lebih terarah.
Metode karyawisata ini cocok bilamana:
1. Akan memberikan pnegrtian yang lebih jelas terhadap pokok masalah atau pembahasan dengan melihat atau mengunjungi lokasi yang sebenarnya.
2. Untuk menumbuhkan rasa cinta dan dan menumbuhkan kesadaran yang tinggi dalam pribadi anak terhadap lingkungannya.
3. Untuk mendorong anak agar lebih mengenal masalah lingkungan secara baik dan teliti.
Keunggulan metode ini adalah:
a. Dapat memberuikan kepuasan terhadap siswa dengan menyaksikan kenyataan.
b. Dapat menambah pengalaman para siswa, dan guru mempunyai kesempatan untuk menjelaskan suatu objek dengan jelas.
c. Melatih siswa bersikap lebih terbuka, objektif, dan luas.
Kelemahan metode ini:
1. Metode ini akan gagal bila menemui objek yang kurang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
2. Waktu yang tersedia tidak mencukupi dan menyita waktu pelajaran.
3. Karyawisata membutuhkan biaya transportasi dan akomodasi yang besar yang dapat menjadi beban bagi siswa.
Hal perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ini adalah:
1. Persiapan dan perencanaan, dalam karyawista hendaknya dimusyawarahkan dengan para siswa terutama mengenai:
a. Tujuan dan sasaran yang dituju.
b. Aspek yang akan diteliti atau diselidiki.
c. Mengumpulkan informasi sebelum berkaryawisata.
2. Pelaksanaan karyawisata, dalam melaksakan karyawisata harus tertib dan teratur, dimana siswa dapat mengerjakan tugas dengan baik.
3. Tahap tindak lanjut, para siswa menunjukan penemuannya secara tertulis dan dilanjutkan dan dilanjutkan dengan tanya jawab atau diskusi kelas.
9. Metode Drill
Metode driil/ latihan/metode training adalah suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara praktis, suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan (Winarno Surachmad, 1979: 76)
Dalam melakukan pelatihan, perlu dipahami situasi dan cara pelaksanaannya. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode driil:
a) Kesadaran bahwa belajar bukanlah sesuatu yang mengulang sama persis dengan apa yang telah dipelajari sebelumnya, tapi berbeda situasinya. Selain itu pengaruh latihan pertama akan mempengaruhi latihan-latihan berikutnya.
b) Situasi belajar itulah yang mula-mula harus diulangi untuk mendapat respon dari siswa. Perubahan situasi ini akan menuntut adanya perubahan respon sehingga ketrampilan siswa dapat lebih disempurnakan.
Metode driil cocok digunakan untuk memperoleh:
a) Kecakapan motorik, seperti mengulas, menghafal, membuat alat-alat, menggunakan alat/mesin, permainan dan atletik.
b) kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal tanda-tanda/ simbol dan sebagainya.
c) Asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan simbol, membaca peta, dan sebagainya.
d) Mengetahui sifat kecakapan : kecakapan sebagai penyempurnaan suatu arti, bukan sebagai hasil proses mekanis semata-mata. Kecakapan dikatakan benar bila mengulang dengan menggunakan pikiran, karena berbuat sesuatu harus sesuai dengan situasi dan kondisi.
Kecakapan dapat diraih melalui dua fase:
1) Fase Integratif: mengembangkan kecakapan tersebut dengan melakukan hubungan fungsional dan aktifitas penyelidikan. Praktek ini ditujukan untuk mendalami arti, bukan ketangkasan.
2) Fase Penyempurnaan: memerlukan ketelitian yang dikembangkan dengan praktek yang berulang kali. Praktek yang sering ditujukan untuk mempertinggi efisiensi, bukan mendali arti.
Keunggulan metode latihan siap (driil) antara lain:
a) Siswa memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai apa yang dipelajarinya.
b) Dapat menimbulkan rasa percaya diri dengan memiliki ketrampilan khusus
c) Guru lebih mudah untuk mengontrol dan membedakan siswa yang disuplin dan kurang memperhatikan pelajaran
Kelemahan metode latihan:
a) Dapat menghambat inisiatif siswa, karena guru dianggap memberi petunjuk yang menyimpang dan melanggar dalam pengajaran, berbeda dengan inisiatif dan minat siswa
b) Menimbulkan penyesuaian yang statis kepada lingkungan. Siswa menyelesaikan tugas sesuai yang diinginkan oleh guru.
c) Membentuk kebiasaan kaku. Siswa seolah-olah bertindak secara mekanis
d) Menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran menghafal.
Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode driil:
 Driil hanyalah untuk bahan/ perbuatan yang bersifat otomatis
 Latihan harus memiliki makna dalam rangka yang lebih luas, yakni:
a) Sebelum dilaksanakan latihan siswa perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan tersebut
b) Siswa perlu menyadari latihan-latihan akan berguna baginya kelak
c) Siswa perlu mempunyai sikap bahwa latihan itu untuk melengkapi belajar.
Dalam latihan-latihan tersebut yang harus ditekankan adalah pada diagnosa:
 Pada tarap permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna.
 Meneliti kesulitan yang timbul dari siswa dan siswa memerlikan waktu untuk fariasi latihan, perkembann arti, dan kontrol.
 Pertama harus bersifat ketetapan, lalu kecepatan, danakhirnya siswa harus memiliki keduanya.
 Masa latihan harus relatif singkat dan sering dilakukan latihan lanjutan
 Kondisi latiahn harus menarik minat anak dan suasana yang menyenangkan
 Proses yang bersifat fundamental harus didahulukan dari pada yang bersifat sekunder
 Proses latiahn juga harus diperhatikan perbedaan kemampuan indifidual.
10. Metode Sistem Regu
Sistem beregu ini dikenal dengan sebutan team teaching. Menurut Engkoswara, Team Teaching adalah suatu sistim mengajar yang dilakukan oleh dua orang guru atau lebih ddalam mengajar siswa dalam kelas yang mempunyai perbedaan minat, kemampuan atau tingkat kelas.
Sistem beregu ini cocok digunakan bila:
a) Jumlah siswa yang terlalu banyak sedangkan guru terbatas atau sebaliknya.
b) Untuk memantapkan dan mengefektifkan pelajaran yang bahasannya padat
c) Untuk menciptakan kerjasama dan pengertian serta memperluas wawasan pengetahuan
d) Untuk melatih siswa yang cocok dijadikan sebagai kader/asisten
Keunggulan metode sistem beregu:
a) Setiap kelompok memiliki pengertian dan pandanagn yang sama
b) Setiap anggota kelompok akan mendapat tugas yang sesuai dengan kemampuannay.
c) Adanya pembagian tugas
d) Sistem pengajaran dapat melakukan diskusi dan bertukan fikiran
Kelemahan metode ini:
a) Sukar membentuk tim yang kompak
b) Sangat rumit untuk mengatur organisasi kelas yang lebih fleksibel
c) Tim dapat merugikan siswa bila didasarkan pada pertimbangan ekonomis
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini:
a) Siapkan tim pengajar sebaik mungkin sepelum pelajaran dimulai.
b) Usahakan setiap tim anggota belajar mendapat tugas sesuai dengan bidang keahliannya
c) Sewaktu pengajaran dimulai, tugas diatur sesuai dengan prosedur pengajaran.
d) Adakan diskusi setelah pelajaran selesai
C. Teori Modern
Adalah suatu teknik mengajar yang baru berkembang dan belum lazim digunakan secara umum, seperti mengajar dengan modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, machine program, masih merupakan metode yang baru dikembangkan dan diterapkan di bwbwrapa sekolah tertentu yang mempunyai peralatan dan media yang lengkap serta guru-guru ahli menanganinya.
Belajar dianggap sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Menurut Hilgrad belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik dilatihan laboratorium atau lingkungan ilmiah. Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya proses perubahan yang terjadi tidak dapat disakaikan. Kita hanya mungkin dapat menyaksikan gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak.
Banyak teori yang membahas terjadinya perubahan tingkah laku. Namun demikian, setiap teori berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan John Locked hakikat manusia menurut Leibnitz.
Menurut John Locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya,locke mengaggap bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulis apa kertas itu sanagt tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan inilah muncul aliran belajarbehaviorisme-elementeristik.
Berbeda pandangan locke, leibnitz mengaggap bahwa manusia adalah organisme aktif. Manusia merupakan sumber daripada kegiatan. Pada hakikatnya manusia bebas untuk berbuat, manusia bebas untuk membuat suatu pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan ini adalah kesadarannya sendiri. Menurut aliran ini tingkah laku manusia ahanyalah expresi yang dapat diamati sebagai akibat dati eksistensi internal pada hakikatnya bersifat pribadi. Pandangan hakikat manusia menurut pandangan leibnitz ini kemudian melahirkan aliran belajar kognitif-holistik.
Berangkat dari konsep manusia yang berbeda, dalam menjelaskan terjadinya prilaku, kedua aliran teori belajar, yaitu aliran behavioristik-elementeristik dan aliran kognitif holistic, memiliki perbedaan pula. Perbedaan keduanya seperti dapat dilihat pada table di bawah ini:
Table Perbedaan aliran Behavioristik dan Kognitif
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK TEORI BELAJAR KOGNITIF
Mementingkan pengaruh lingkungan
Mementingkan bagian-bagian
Mengutamakan peranan reaksi
Hasil belajar terbentuk secara mekanis
Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
Mementingkan pembentukan kebiasaan
Memecahkan masalah dilakukan dengan cara trial and error Mementingkan apa yang ada dalam diri
Mementingkan keseluruhan
Mengutamakan fungsi kognitif
Terjadinya keseimbangan dalam diri
Tergantung pada kondisi saat ini
Mementingkan terbentuknya struktur kognitif
Memecahkan masalah didasrkan kepentingan insight
Dibawah ini akan dijelaskan beberapa teori yang dianggap sangat berpengaruh terhadap kedua teori tersebut :
1. Beberapa Teori Belajar Behavioristik
a) Teori Belajar Koneksionisme
Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Thorndike pada tahun 1913. Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama. Dasar terjadinya belajar adalah pembentun asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindera dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respon (S-R). Oleh karena itulah teori ini juga dinamakan teori Stimulus-Respon. Contoh : Ketika seseorang melirik setangkai bunga melati yang indah dan harum di taman, dapat menjadi sebuah stimulus yang dapat mengakibatkan muncunya respon untuk memetiknya. Atau ketika seseorang sedang mengendarai motor tiba-ti lampu merah menyala, maka dengan seketika orang tersebut mengerem motornya dan kemudian berhenti.
Selanjutnya, dalam teori koneksionisme ini Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
a. Hukum Kesiapan (law of readiness)
Secara lengkap bunyi hukum ini adalah : pertama, jika pada seseorang ada kesiapan untuk merespons atau untuk bertindak, maka tindakan atau respons yang dilakukannya akan memberikan kepuasan, dan mengakibatkan orang tersebut untuk tidak melakukan tindakan-tindakan lain. Kedua, jika seseorang memiliki kesiapan untk merespon, kemudian tidak melakukannya, maka dapat mengakibatkan ketidakpuasan, dan akibatnya orang tersebut akan melakukan tindakan-tindakan lain. Ketiga, jika seseorang tidak memiliki kesiapan untuk merespon, maka respon yang diberikan akan mengakbatkan ketidakpuasan.
b. Hukum Latihan (Law of Exercise)
Hukum ini menunjukkan bahwa hubungan stimulus dan respon akan semakin kuat manakala terus-menerus dilatih atau di ulang ; sebaliknya hubungan stimulus respon akan semakin lemah manakala tdak pernah diulang. Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan semakin dikuasailah pelajaran itu.
c. Hukum Akibat (Law of Effect)
Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorangdapat mengulangi respon yang sama, maka harus diupayakan agar menyenangkan dirinya, contohnya dengan memberikan hadiah atau pujian. Sebaliknya, apabila kita mengharapkan agar seseorang tidak mengulangi respon yang diberikan, maka harus diberi sesuatu yantidak menyenangkan untuknya, contoh dengan memberikan hukuman.
Konsep penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah yang dinamakan transfer of training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran, konsep transfer of training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya konsep ini tidak ada, maka apa yang dipelajari tidak akan bermakna. Oleh karena itu, apa yang dipelajari oleh siswa di sekolah harus berguna dan dapat digunakan diluar sekolah. Misalnya, anak belajar membaca, maka ketrampilan membaca dapat digunakan untuk membaca apapun diluar sekolah, walaupun disekolah tidak diajarkan baaimana membaca koran, tapi karena huruf-huruf yng diajarkan di sekolah sama dengan hurufyang ada dalam koran, maka keterampilan membaca di sekolah dapat di transfer untuk membaca koran, majalah, atau membaca apapun.
b) Teori Belajar Classical Conditioning
Seperti halnya Thorndike, Pavlov dan Watson yang menjadi tokoh teori ini juga percaya bawa belajar pada hewan memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu.
Pavlov melakukan percobaan dengan seekor anjing. Dalam percobaannya, Pavlov ingin membentuk tingkah laku tertentu pada anjing. Bentuk percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Dalam kadaan lapar, sebelum diberi makanan dibunyikan lonceng, diperlihatkan makanan, dan air liur anjing keluar. Keadaan ini terus menerus diulang: bunyikan lonceng, perlihatkan makanan, air liur anjing keluar. Setelah beberapa kali dilakukan ternyata pada akhirnya setiap lonceng berbunyi, air liur anjing keluar, walaupun tanpa diberi makanan. Dalam keadaan ini, anjing belajar bahwa kalau lonceng berbunyi pasti ada makanan sehingga menyebabka air liurnya keluar.
Dari eksperimen ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu.
c) Operant Conditioning
Teori Operant Conditioning yang dikembangkan oleh Skinner merupakan pengembangan dari dari teori Stimulus Respons. Skinner membedakan dua macam respons, yakni respondent respons (reflektive response) dan operant respont (instrumental response). Respondent rspont adalah respons yang ditimbulka oleh perangsang-perangsang tertentu, m isalnya perangsang stimulus makanan menimbulkan keluarnya air liur. Respon ini rfelatif tetap. Artinya, setiap ada stimulis semacam itu akan muncul respon tertentu.
Operant response atau instrumental respon adalah respon yang timbula berkembangnya diikuti oleh perangsang-peragsang tertentu. Perangsang demikian disebt reinforce, karena perangsang-peransang tersebut memperkuat respon yang dilakukan oraganisme. Jadi dengan demikian, perangsang tersebut mengikuti dan memperkuat suatu tingkah laku yang telah dilakukan. Misalnya, jika seseorang telah belajar melakukan sesuatu lalu mendapat hadiah sebagai reinforce, maka ia menjadi lebih giat dalam belajar.
Skinner berpendapat bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu perlu diurutkan atau dipecah-pecah menjadi bagian-bagian atau komponen tingkah laku yang spesifik. Selanjutnya, agar terbentuk pada tingkah laku yang diharapkan pada setiap tingkah laku yang spesifik dan telah direspons, peru diberikan hadiah (reinforcer) agar tingkah laku itu terus menerus diulang, serta untuk memotivasi agar bberlanjut pada komponen tingkah laku selanjunya sampai akhirnya pada pembentukan tingkah laku puncak yang diharapkan.
Sebagai ilustrasi penerapan teori ini, misalkan kita ingin membentuk kebiasaan anak dalam membaca buku. Untuk sampai pada kebiasaan itu, perilaku membaca dapat dipecahkan menjadi beberapa komponen tingkah laku, contohnya:
1) Anak melihat-lihat buku yang disediakan.
2) Membuka-buka buku.
3) Memperhatikan gambar-gambar yang ada dalam buku.
4) Membaca isi buku.
2. Teori- teori belajar kognitif
a) Teori gestalt
Teori ini dikembangkan oleh koffka, kohler dan wertheimner. Menurut teori gestalat, belajar adalah proses pengembangan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam situasipermasalahan. Berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap bahwa atau tingkah laku itu bersifat mekansitis,sehingga megabaikan atu mengingkari perana isight. Teori gestalat justru mengaggap bahwa insight adalah inti dari pembentuksn tingksh laku.
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori gestalt, memiliki ciri sebagai berikut :
a) Kemampuan insight seseorang tergantung paa kemampuan dasarnya
b) Insight dipengaruhi kepada pengalaman masa lalunya yang relevan
c) Insight tergantung pada pengaturan dan penyediaan lingkungan
Secara lebih jelasnya belajar dengan insight (pengertian) adalah sebagai berikut :
a) insight tetgantung dari kemampuan dasar
b) insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan (degan apa yang dipelajari)
c) insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati
d) insight adalah hal yang dicari
e) isight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadap situasi
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang teori Gestalt, akan kami sajikan beberapa prinsip penerapannya (Nasution, 1982)
1) Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Maknanya adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta
2) Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya.
3) Belajar berkat insight
Telah dijelaskan diatas bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan.
4) Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adakah kejadian yang dapat memberikan arti kehidupan setiap prilaku individu. Sedangkan belajar adalah mealakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus menerus disempurnakan. Proses pembelajaran adalah proses memberikan pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehiduan anak.
b) Teori medan
Teori ini di dikembangakan oleh Kurt Lewin. Sama seperti teori gestalat, teori medan menganggap bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkautan denagn proses pemecahan masalah menurt lewin dalam belajar adalah
a. Belajar adalah perubahan struktur kognitif: setiap orang akan dapat memecahkan maslah jika iambisa mengubah struktur kogniti.
b. Pentingnya motivasi.
Motifasi adalah factor yang dapat mendorong setiap individu untuk berprilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu.disamping itu, motivasi itu juga bias muncul karena pengalaman yang menyenangkan, mislanya pengalaman kesuksesan. Seseorang yang memperoleh keberhasilan mencapai kesusuksesan maka yang bersangkutan akan termotivasi untukmelakukan tindakan lebih bagus, ia akan senang, gembira dan merasa puas. Dan sebaliknya, seseorang yang mengalami kegagalan dalam mencapai kesuksesan akan merasa sedih, malu, tidak merasa puas, yang pada gilirannya akan melemahkan motivasi mereka untuk bertindak lebih lanjut.
c) Teori konstruktivistik
Teori ini dikembangkan oleh pieget pada pertengahan abad 20. pieget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kaemampuan untuk mengkonstruksi pengetauan sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangakan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan.
Mengkonstruksi pengetahuan menurut pieget dilakkan melalui proses asimilasi dan akomodasi tehadap skema yang sudah ada. Skema adalah struktur kognitif yang terbentuk melalui proses pengalaman. Asimilasi adalah proses perubahan skema. Secara lengkap teori konstruktivistik akan anda temukan dalam strategi pembelajaran konstektual dan strategi peningkatan kemampuan berpikir pada bab-bab selanjutnya.




BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa metode pengajaran adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Metode tersebut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistim pengajaran. Dalam memakai metode mengajar, seorang pendidik harus menyesuaikan karakteristik siswa, materi, kondisi, lingkungan (setting) dimana pengajaran berlangsung. Bila ditinjau secara lebih teliti sebenarnya keunggulan suatu metode terletak pada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain: tujuan, karakteristik sisiwa, situasi dan kondisi, kemampuan dan pribadi guru, serta sarana dan prasarana yang digunakan.
Secara garis besar, metode mengajar dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian:
1.Metode mengajar konvensional (klasik)
2. Metode mengajar inkonvensional (modern)
Sedangakn menurut teori modern bahwa ada 2 macam aliran yaitu aliran behavioristik (mementingkan lingkungan) dan aliran kognitif (memenitingkan apa yang ada dalam diri)








DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Pendidikan. Jakarta: Rineka cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. 2008. Jakarta: Rineka cipta
Uzer, Usman & Setiawati, Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Dahar, Ratna wilis. 1989. Teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Djamarah, Syaiful Bahri & Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Usman,M. Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Press

0 Response to "metode pembelajaran"

Poskan Komentar